Seekor murai yang segar bugar tersalah masuk ke dalam rumah. Ia berpusing-pusing terbang mencari jalan keluar. Tingkap dan pintu utama semuanya di buka bagi memudahkannya keluar.
Saya tidak teringat/terfikir untuk memadamkan kipas di ruang tamu. Dan itulah penyebab kematian murai tersebut.
Roza mengangkat Murai tersebut. Matanya terbeliak. Barangkali, masih ada sedikit nyawa. Nyawa-nyawa ikan.
“Yang, burung ini terlanggar kipas,” kata Roza sambil menyerahkan burung tersebut kepada saya.
Saya membaca surah al-ikhlas beberapa kali. Akhirnya, saya tutup kelopak mata Murai tersebut. Dan ia tertutup!
Lalu saya kebumikan di halaman rumah di bawah pohon-pohon pisang hutan.
“Kenapa ayah tanam burung yang sudah mati,” Sofea bertanya. Entah, saya terfikir begitu. Barangkali hati saya sememangnya menjadi lembut dengan setiap kejadian yang membawa kepada kisah kematian.
Bila pula sampai masa kita?
Sihat, segar-bugar dan tiba-tiba kita dijemput pergi.
Ada lebih 50 ekor murai dan pipit yang berkunjung ke rumah saya setiap pagi. Mereka menunggu-nunggu saya menaburkan makanan sebelum terbit matahari.
Cuma, saya harap mereka tahu yang kami sekeluarga akan menyambut hari raya idil fitri. Tiada siapa yang akan memberi mereka makan di Ar-Raudhah!
Carilah….







