Rajawali Tanpa Bulu

Musibah acap kali menyebabkan manusia menangis. Bersedih sekadarnya adalah lumrah. Kehilangan orang yang disayangi tentunya satu perkara yang melukakan hati. Namun wajar adakah  meraung tanpa batasan seakan-akan menolak takdir?

Syukur atas segala nikmat Allah. Masa senang bersyukur dengan nikmat kesenangan. Masa susah bersabar dengan ujian Allah. Kesusahan itu perit, serupa juga keperitan itu susah. Hakikat kehidupan tidak dapat diwajarkan oleh khayalan yang muluk-muluk. Pahit tetap dirasai oleh lidah, padahal ia penawar mujarab untuk tubuh.

Gambaran yang cukup baik, telah dibuat oleh Syeikh Abdul Qadir Isa dalam membincangkan tentang insan yang mencari Allah, mencari jalan menuju Allah. Perasaan manusia selalu gelisah, namun mempunyai iman yang teguh, takwa yang tuntas.

Syeikh Abdul Qadir Isa memetik sebait puisi :

“Dia bak seekor rajawali tanpa bulu

Selalu berduka jika melihat burung yang terbang

Dulu, dia merasakan nikmat di sebuah taman

Mampu menangkap apa saja yang ingin diburunya

Sampai ketika dia tertimpa malapetaka

Kedua sayapnya tergunting

Maka bersedihlah dia.”

(Syeikh Abdul Qadir Isa, ‘Hakekat Tasawuf’ tajuk asal ‘Haqa’iq at-Tashawwuf’ terjemahan Khairul Amru Harahap dan Afrizal Lubin).

Hadapi malapetaka melalui jurus pandang yang betul. Tanggung bebanan hidup dengan keupayaan anugerah Allah. Seekor rajawali yang kuat mampu menguasai taman dan langit luas. Tanpa sepasang sayap, keupayaannya tiba-tiba hilang. Rajawali masih mempunyai nikmat penglihatan daya fikir (mengikut fitrahnya).

Laksana rajawali, sang insan masih tetap mengharapkan penciptanya, Allah. Masih ada tempat bergantung dan memohon pertolongan. Insan ini tetap menjadi hamba yang taat dan beribadah kepada Allah. Masih ada nikmat Allah di tangannya.

Selagi nikmat hidup masih diberi Allah, selagi itulah ada jalan untuk mentaati Maha pencipta. Masih ada rahmat Allah. Malah musibah acap kali membawa insan lebih mengingati Allah, lebih mendekati Allah dengan berlaku taat kepada Allah Al-Aziz (Maha Perkasa).

Bersedih atas segala dosa-dosa lalu itu terpuji, bukan bersedih secara keterlaluan atas musibah kecil (ujian) Tuhan ke atas makhluknya. Semoga sang rajawali bertemu dengan jalan yang dicarinya, menuju Tuhannya.

Mafhum Firman Allah : “Dan Dia telah memberi kepada kamu sebahagian daripada segala yang kamu mohon kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, nescaya tidaklah dapat kamu menentukan bilangannya. Sesungguhnya manusia (yang ingkar) sangat zalim (menempatkan sesuatu pada bukan tempatnya) lagi sangat kufur (tidak mensyukuri nikmat Tuahnnya).” Mafhum Surah Ibrahim [14]:34)

Wallau’alam.

 

[Darma Mohammad]